a
a
Weather:
32 C
haze
Jakarta
humidity: 52%
wind: 4 m/s WNW
H32 • L32
Thu
29 C
Fri
27 C
Sat
28 C
Sun
28 C
Mon
28 C
Home2018December (Page 4)

Jakarta – Seorang perempuan berbagi kisah menegangkan saat kapal yang ditumpanginya karam di tengah lautan lepas. Ia bisa selamat berkat iPhone. Begini kisahnya.
Rachel Neal, demikian nama perempuan tersebut. Ia menceritakan kisahnya itu dalam acara The Today Show, sebagaimana diwartakan 9to5mac.com yang dikutip detikINET, Minggu (16/12/2018).
Menurut penuturan Rachel, dirinya saat itu sedang berlibur dengan sejumlah teman ke Jepang. Mereka mencarter sebuah kapal untuk menuju sebuah pulau di lepas pantai Okinawa.
Perjalanan itu tak berjalan mulus karena kapal yang mereka tumpangi karam setelah diterjang air. Rachel dan kawan-kawan pun terpaksa meninggalkan kapal tersebut dan terombang-ambing di lautan dalam balutan rompi penyelamat

Baca juga: Akhirnya, Trio iPhone Sampai di Indonesia

Untungnya Rachel mengaku tak pernah lepas dari go bag, semacam tas darurat, yang kali ini diisi ponsel rombongan. Usai lompat ke laut lepas, Rachel pun segera merogoh tas tersebut. Ponsel kekasihnya sudah dirusak air, tapi iPhone Rachel masih berfungsi.
"Kami mengeluarkan ponselnya, tapi tak bisa dipakai karena sudah kena banyak air. Kami lalu mengeluarkan ponselku, yang masih bisa berfungsi walaupun juga kena banyak air," ucap Rachel.
Berkat iPhone yang masih dapat digunakan itu, Neal jadi bisa menelepon nomor layanan darurat di Jepang. Sekitar 90 menit berselang, para penjaga pantai Jepang pun tiba untuk menyelamatkan Rachel dan kawan-kawan.

Baca juga: Edan! iPhone XS Max Ini Harganya Sampai Rp 100 Jutaan

Tak diketahui persis iPhone model apa yang digunakan oleh Rachel. Namun, mengingat daya tahannya terhadap air maka dapat diasumsikan bahwa itu merupakan iPhone 7 atau yang lebih baru.
iPhone Rachel itu juga mengabadikan proses penyelamatan yang dilakukan oleh para penjaga pantai Jepang; Rachel dan kawan-kawan terlihat diangkat dari laut ke arah helikopter penyelamat.
Yang menarik, kisah ini turut dikomentari oleh CEO Apple Tim Cook lewat sebuah cuitan. Cook menyebutnya sebagai kejadian "luar biasa". Dirinya juga lega Rachel dan kawan-kawan selamat.

[Gambas:Twitter]

Saksikan juga video ' Wew! iPhone Disebut Jadi Pilihan Orang Miskin di China ':

[Gambas:Video 20detik]


Selamat berkat iPhone Usai Kapal Karam di Tengah Lautan


(krs/jsn) iphone
Original Article

Jakarta – Apple lagi-lagi digugat oleh pelanggannya. Kali ini menyoal ukuran dan resolusi layar di iPhone terbaru.
Dilansir detikINET dari CNET, Minggu (16/12/2018) dua orang pengguna iPhone melayangkan gugatan class action di Pengadilan North Carolina, AS pada Jumat (14/12/) lalu. Mereka menuduh Apple salah mengiklankan ukuran layar dan jumlah pixel di iPhone X, XS dan XS Max.
Gugatan tersebut menyatakan Apple berbohong tentang ukurang layar karena mereka turut menghitung area seperti notch dan sudut-sudut ponsel sebagai layar. Jadi, ia menganggap bahwa iPhone tidak memiliki 'all screen' seperti yang diiklankan.

Baca juga: Fitur Connect Apple Music Dimatikan

Contohnya, dalam gugatannya, penggugat mengatakan bahwa ukuran layar iPhone X yang diukurnya hanya sekitar 5,6875 inci. Padahal, Apple mengiklankan iPhone X seharusnya memiliki layar berukuran 5,8 inci.
Penggugat juga menuduh bahwa ketiga iPhone tersebut memiliki resolusi layar yang lebih rendah daripada yang diiklankan. Contohnya, iPhone X seharusnya memiliki resolusi 2436×1125 pixel, tapi menurut penggugat iPhone X tidak memiliki true pixel dengan subpixel merah, hijau dan biru.

Baca juga: Pebisnis AS di China Takut Ditangkap Karena Kasus Huawei

Menurutnya, iPhone X hanya memiliki dua subpixel per pixel dan jumlah ini lebih rendah dari jumlah yang diiklankan. Penggugat juga menyebut bahwa iPhone 8 Plus memiliki layar dengan kualitas lebih tinggi dibandingkan iPhone X.
Ini bukan pertama kalinya Apple digugat gara-gara iPhone. Pada Maret 2018, puluhan pengguna menggugat Apple dalam 59 gugatan yang berbeda karena software tweak yang mengakibatkan iPhone lawas menjadi lambat.
Saksikan juga video ' Mengenal Lebih Dalam Prosesor Terbaru iPhone ':

[Gambas:Video 20detik]


Apple Digugat Soal Layar iPhone Baru


(jsn/jsn) apple
Original Article

Jakarta – Beberapa pebisnis Amerika Serikat yang sedang bertugas di China mengaku cemas. Pasalnya setelah AS meminta Kanada menangkap petinggi Huawei, Meng Wanzhou, China kemungkinan sedang mempersiapkan tindakan balas dendam.
China memang sudah berjanji bakal ada konsekuensi serius pada AS dan Kanada seandainya Meng terus dipenjara. Dua warga Kanada, Michael Kovrig dan Michael Spavor, bahkan dipastikan telah ditahan oleh otoritas China dengan tudingan membahayakan keamanan Negeri Tirai Bambu itu.
Maka wajar jika pebisnis AS di China takut bakal jadi incaran berikutnya. Dikutip detikINET dari CNBC, Minggu (16/12/2018) seorang pengacara asal New York yang bekerja di China curhat bahwa kasus Huawei membuat mereka dilanda rasa khawatir dan jadi sangat berhati-hati.

Baca juga: SoftBank Tak Lagi Pakai Huawei

Mereka tahu soal kemampuan China mengawasi apa yang mereka lakukan atau katakan. Jadi saat sedang berada di publik, mereka coba bertingkah senormal mungkin.
Seorang eksekutif perusahaan keuangan AS di Singapura mengakui beberapa koleganya di China menanyakan apakah ada kemungkinan mereka bisa dipindah ke Singapura saja atau Tokyo.
"Kupikir orang benar-benar menjadi waspada dan sedikit cemas. Mungkin mereka ingin pekerjaan yang sama, tapi di tempat lain saja. Tidak ada kepanikan atau semacamnya. Tapi orang-orang itu tetap bertingkah cool walau berada di bawah tekanan," katanya.

Baca juga: Operator di Eropa Mulai Blokir Huawei

Eksekutif itu sudah berulangkali datang ke China, namun saat ini sama sekali tak berniat ke sana. "Tidak, tidak…aku kan punya anak," sergahnya.
"Memang selalu ada perhatian soal keamanan saat bepergian ke China dan risikonya saat ini barangkali lebih tinggi dibanding di masa silam. Perusahaan-perusahaan mengawasi situas ini dengan seksama," kata Craig Allen, kepala U.S China Business Council.
China panas karena Huawei adalah perusahaan teknologi andalannya. Penangkapan sang petinggi, yang sekarang dibebaskan dengan jaminan sembari menunggu apakah akan diekstradisi di AS, membuat mereka mengancam tindakan balasan. Meng ditahan dengan tudingan memfasilitasi bisnis Huawei dengan Iran, negara yang diembargo AS.
Saksikan juga video ' China Geram Bos Huawei Ditangkap, Ini Ancamannya ':

[Gambas:Video 20detik]


Pebisnis AS di China Takut Ditangkap Karena Kasus Huawei


(jsn/jsn) huawei
Original Article

Jakarta – Hari Belanja Online Nasional 12 Desember (Harbolnas 12.12) telah berlalu. Berikut sebuah data kecenderungan masyarakat Indonesia dalam melakukan aktivitas belanja pada momen tersebut.
Menurut data historikal Shopback, platform agregator dan cashback e-Commerce, transaksi terbanyak terjadi pada pukul 10.00 pagi hingga 12.00 siang. Selain itu, pukul 12.00 malam hingga 1.00 dini hari pun jadi waktu berburu belanja online bagi masyarakat. Semua itu tak lepas dari promo dan program flash sale dari mitra e-Commerce Shopback yang berlangsung di jam-jam tersebut.
Country Head of ShopBack Indonesia Indra Yonathan mengatakan, animo masyarakat dalam mengikuti Harbolnas cukup tinggi. Hal ini terbukti dari jumlah order dan transaksi yang terjadi di platform ShopBack meningkat tajam pada 12 Desember 2018.

Baca juga: 5 e-Commerce Terpopuler Saat Pekan Harbolnas

"Pada periode pesta belanja online berlangsung, seperti 9.9, 10.10 dan 11.11, rata-rata jumlah transaksi meningkat 2 kali lebih banyak dibanding rata-rata transaksi harian. Namun, di Harbolnas, jumlah transaksi Shopback meningkat hingga tiga kali lipat, jumlah transaksi terbesar sepanjang tahun ini," tuturnya dalam siaran pers, Sabtu (15/12/2018).
Tahun ini Shopback mengklaim membukukan transaksi tertinggi sepanjang Harbolnas berlangsung. Jumlah transaksi meningkat tiga kali lipat dibandingkan rata-rata transaksi harian, atau lima kali lebih tinggi dibanding periode sama tahun sebelumnya.
Disebutkan bahwa kategori produk groceries menduduki peringkat pertama produk yang paling banyak dipesan di platform Shopback, diikuti produk handphone dan gadget, produk ibu & anak, produk kesehatan kecantikan, dan produk fesyen.
Sementara itu Shopee, Tokopedia, dan JD.id menjadi tiga platform e-commerce teratas yang paling banyak dikunjungi pengguna saat periode Harbolnas 2018.
(krs/krs) harbolnas shopback flash sale shopee tokopedia jd.id
Original Article

Jakarta – Di Thailand, Go-Jek menjelma jadi Get. Di Negeri Gajah Putih itu, si "Go-Jek" Thailand kini baru saja meluncurkan aplikasinya.
Aplikasi Get di Thailand saat ini masih berada dalam tahap beta, sama seperti aplikasi Go-Jek yang belum lama ini diluncurkan untuk Singapura.

Baca juga: Aplikasi Go-Jek Sudah Bisa Diunduh di Singapura

Dalam aplikasi Get ini ada dua layanan yang tersedia yakni ride-hailing kendaraan roda dua dan pengiriman paket. Nama layanan tersebut berbeda dengan punya Go-Jek di Tanah Air.

'Go-Jek' Thailand Luncurkan AplikasinyaFoto: screenshot Get

Jika ride-hailing motor di sini dikenal sebagai Go-Ride, di Thailand namanya Get Win. Sedangkan Go-Send di Indonesia berubah menjadi Get Delivery di sana.

Baca juga: 'Go-Jek' Mulai Unjuk Gigi di Thailand

Soal tampilan, aplikasi Get bisa dibilang 11-12 dengan Go-Jek. Ketika dibuka maka yang ditempatkan paling atas adalah layanan, lalu menyusul di bawahnya sejumlah promo. Kemudian, ada tombol Home, Orders, Help, dan Account di bagian paling bawah.
Aplikasi Get tersedia di Play Store maupun App Store. Get tercatat sudah diunduh lebih dari 1.000 kali.

Baca juga: Perkenalan 'Go-Jek' Thailand Disambut Antusias

(mon/krs) go-jek get go-jek thailand
Original Article

Jakarta – Warga California, Amerika Serikat (AS) tampaknya harus berpikir ulang jika masih mau SMS-an. Regulator setempat berencana untuk memberlakukan pajak SMS.
Wacana pemberlakuan pajak SMS ini dilontarkan Public Utilities Commission California. Jika jadi diterapkan, hal tersebut akan berdampak pada tingginya tarif SMS yang dipatok oleh operator telekomunikasi.
Dikutip dari Engadget, Sabtu (15/12/2018), ide di balik pajak SMS ini sebenarnya bermula pada sekitar tahun 1990an, ketika pemerintah AS mengimplementasikan Public Purpose Program.

Baca juga: Fakta-fakta Aplikasi 'Tuyul' dan Cara Mengusirnya

Program ini memberlakukan biaya tambahan pada semua pengguna ponsel. Pungutan pajak ini akan digunakan untuk mendukung program lain yang ditujukan untuk membantu warga berpenghasilan rendah.
Mengingat akhir-akhir ini pengguna ponsel makin jarang melakukan panggilan suara dan lebih banyak berkirim pesan atau meninggalkan voice note, pungutan untuk program ini telah turun sekitar sepertiganya.
Sebaliknya, anggaran untuk mendukung warga berpendapatan rendah telah meningkat sebesar 50%. Nah, dengan memungut pajak pesan teks dan mengkalsifikasikan di bawah kategori yang sama dengan panggilan suara, hal ini bisa membantu meningkatkan pendapatan hingga USD 44,5 juta per tahun.

Baca juga: Hati-hati Potensi Diintai Aplikasi di Ponsel Sendiri

Operator telekomunikasi di AS kabarnya tidak tergerak dengn program ini. Namun, harus dicatat, ini karena pemberlakuan pajak tersebut belum ditetapkan secara resmi.
Untuk diketahui pula, pajak tersebut hanya akan diberlakukan pada pesan teks seperti SMS. Layanan pesan instant seperti iMessage, WhatsApp, Messenger, Line, Telegram dan lainnya, dikirim lewat internet dan tidak dikenai pajak.
(rns/krs) cyberlife sms pajak
Original Article

Jakarta – Indonesia memasuki Pemilihan Umum (Pemilu 2019) tahun depan. Google rupanya telah menyiapkan diri untuk menyambut pesta demokrasi lima tahun sekali ini.
Hal tersebut diungkap Managing Director Google Indonesia Randy Jusuf. Dia mengatakan pihaknya telah melakukan diskusi dengan instansi terkait Pemilu 2019. Hanya saja, dirinya belum bisa mengungkap banyak soal program apa yang bakal dibesut Google Indonesia.

Baca juga: Cerita Randy Jusuf Jadi Bos Google Karena Bakmi Ayam

"Saat ini belum ada detail yang bisa di-share. Harapan kami awal tahun depan lebih ada konkrit apa yang akan Google lakukan dan di-share ke semua orang," katanya.
"Tapi jawaban singkatnya, kami ingin membantu dan berpartisipasi. Karena Pemilu sangat penting dan Google menjadi salah satu source untuk masyarakat mencari informasi," lanjut Randy.
Tangkal Hoax
Randy menyadari bahwa begitu banyak kabar bohong atau hoax menyebar di internet, tak terkecuali di platform milik Google. Pihaknya pun telah melakukan sejumlah upaya untuk menangkalnya.
"Misi Google adalah mengelola dan mengorganisasi informasi dari seluruh dunia dan membuat informasi ini dapat diakses dan berguna secara universal. Tentu saja kami ingin memberikan yang berguna, hoax tentu saja tidak berguna, karena itu kami memerangi berita palsu," ujarnya.
Disebutkan pria lulusan University of Wisconsin-Madison itu, Google telah melakukan peningkatan pada hasil pencarian dan konten di platformanya. Mereka menerapkan algoritma agar pengguna mendapatkan sumber yang kredibel, terpercaya dan otoritatif.
Di lain sisi pula, raksasa pencarian internet ini membesut program bernama Google News Initiative. Lewat insiatif tersebut, bersama sejumlah perwakilan sejumlah media terpercaya dan organisasi jurnalis, Google mendiskusikan bagaimana memerangi hoax dan meluncurkan cekfakta.com untuk mengecek kebenaran berita.

Baca juga: Sederet Rencana Bos Google Indonesia yang Baru

Perusahan yang bermarkas di Mountain View, California, Amerika Serikat ini turut melatih 1.200 jurnalis dari 22 kota di Indonesia untuk memerangi hoax. Selain itu, dibuat laman khusus Google News Initiaive Training yang bisa diakses oleh semua orang dan tersedia dalam bahasa Indonesia.
Terkait laporan dari pengguna, Google menanggapi secara serius. Mereka menyediakan mekanisme pelaporan di setiap platformnya.
"Kami ingin terus berkembang. Kami ada tim yang didedikasikan untuk mem-feedback secepat mungkin, tentu saja ada prosesnya, tapi kami ingin terus maju kedepan untuk melawan berita tidak bagus dari platform kami," pungkas Randy.
(afr/rns) google google indonesia pemilu 2019 randy jusuf hoax
Original Article

})(jQuery)